Akrostik NAMA

SENDU MERINDU

 R  embulan berwajah sendu. Mengintip ragu dari celah daun bambu, ditingkahi gemerisik dedaunan dan sepoi angin malam.

I    ngatkah kau akan masa itu? Saat kelemahan meraja, meluluhlantakkan kekuatan hingga kuterpuruk berputus asa.

N  estapa hadir tak bertimbang  rasa, meski tangis menggema dan mengejutkan serangga malam, atau bahkan sang rembulan.

I    nikah akhir cerita, ataukah permulaan babak penuh duka?

 

D  alam hangat genggam tanganmu, terselip semangat mengaliri sekujur raga. Pun ketika ibu jarimu mengusap lembut kelopak mata ini, lalu mendekap penuh kasih. Jiwa ini luluh dalam derai asa yang menipis.

A  ndai saja waktu dapat diputar kembali, kan kujaga tiap helai bakti hingga akhir masa tanpa cela.

R  asa ini tak rela dalam ketiadaan, mengharap hadirmu walau absurd

nganpun liar berkelana mengitar semesta, saat angin malam kian menyelinap dan menusuk tajam, lalu menampar wajah mengembalikan kesadaran.

I   ni bukan mimpi. Jalanku kini sepi, terjal berliku penuh onak dan duri, menyemat luka dalam hati.

amun perjalanan ini tak boleh terhenti. Nun jauh di sana, kuyakin kau menantiku dengan segenap rindu,

I   ngin rasanya kuberlari menembus ruang dan waktu, lalu mengabarkan padamu tentang senyum rembulan yang tak lagi sendu

Dalam kumpulan puisi "Untukmu yang telah pergi". 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akrostik PERMATA HATI